Kita sedang diuji. Diuji bukan hanya pandemi. Tetapi juga entitas kemanusiaan yang akhir-akhir ini sering diperdebatkan. Pandemi tidak saja menyisakan luka bagi keluarga yang ditinggalkan, pekerjaan yang harus direlakan, tetapi juga penghasilan yang tak menentu. Meskipun begitu, pandemi juga mengajarkan kekuatan untuk bertahan untuk mencoba melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup. Sejenak kita diingatkan untuk tidak egois dengan sekitar. Bagi sebagian orang, covid mungkin masih dianggap khayalan tetapi kenyataan mengatakan korban keganasan covid semakin meningkat dengan berbagai varian yang masuk di Indonesia. Di tengah simpang siur pemberitaan yang semakin masif, kita juga harus selektif dengan memilih pemberitaan yang valid dan terpercaya. Hoax bukan satu dua kali saja menumpang pada bilik musibah. Kredibilitas ataupun personal yang menjadi sumber berita juga perlu dijadikan bahan pertanyaan kebenaran.

Di sisi lain, kabar dari beberapa teman yang pernah berkenalan dengan covid memang cukup banyak. Ketika dalam proses penyembuhan, saya seringkali bertanya: Apa yang dirasakan? Sebenarnya saya tidak sekedar ingin mengetahui kabar tetapi saya melihat semangat yang terselip diantara sebaris balasan WA. Dan saya tetap kagum dengan teman-teman yang semangatnya tetap terjaga. Teriring mereka juga menyelipkan pesan untuk saling menjaga.

Sebenarnya, tanpa kita disadari kadang kita sering abai dengan kesehatan dan menganggap sebagai hal yang lumrah dan biasa. Pola hidup tidak sehat dan pola makan yang tidak seimbang masih sering menjadi pilihan yang kita ambil. Bahkan, kontrol kesehatan diri sebagai bagian dari pola hidup sehat juga kurang begitu menjadi prioritas kita. Adanya pandemi yang sudah hampir 2 tahun ini mau tidak mau menyadarkan kita bahwa kesehatan saat ini menjadi unsur kehidupan yang mahal. Ketika berbagai ancaman kesehatan akibat pandemi semakin menggeliat, ancaman untuk bertahan hidup juga menjadi konflik yang hingga saat ini belum berkesudahan. Meskipun  di sosial media seringkali kita melihat publik figur maupun pengusaha yang berdermawan meringankan beban saudara-saudara sebangsa melalui berbagai bantuan tetapi belum semuanya terjamah. Mungkin bisa jadi kita belum memiliki cukup uang untuk membantu dalam jumlah banyak tetapi kita dapat memilih langkah sederhana seperti membeli keperluan di warung tetangga, menyisihkan sisa uang belanja untuk dikumpulkan di tabungan dan nantinya bisa diserahkan kepada yang membutuhkan, atau bahkan menebang ranting yang menjorok ke jalan. Tidak semuanya tentang uang. Dan di masa seperti saat ini, kebaikan dan kejujuran masih menjadi mata uang yang spesial. Mungkin kita tidak selalu dapat memberi dalam bentuk nominal tetapi kita dapat mewujudkan senyum tetangga kita dengan tidak memarkir yang menghalangi akses masuk rumahnya, memetik beberapa butir mangga di pohon kita untuknya, dan sebagainya. Kadang kala, silaturahmi tidak selalu tentang uang tapi tentang memberi rasa senang dan nyaman.

Bahkan, di sela cerita kedermawanan banyak pihak inipun terselip cerita haru dari saudara-saudara kita yang berusaha berjuang untuk tetap berjualan, tetap bekerja, tetap menjalankan tugas di berbagai bidang pekerjaan dengan berbagai cara. Ikhtiar tetap menjadi pilihan paling realistis yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Sekali lagi, kita mendapat pembelajaran untuk tetap sabar, tetap kuat, pantang menyerah, dan semangat untuk berjuang.

Seiring berjalannya waktu, perjalanan berita covid ternyata belum juga usai. Dampak ekonomi, psikologi, sosial, dan sebagainya sangat terasa dalam keseharian kita.  Yang biasanya menjajakan dagangan di pusat keramaian tidak laku karena jumlah pengunjung yang berkurang. Para pembelipun juga berpikir ulang dalam mengalokasikan belanja karena banyak yang kehilangan pekerjaan. Meskipun begitu, tak elok rasanya apabila kita berpasrah dalam keluh kesah.

Berdasarkan data yang dirilis oleh pemerintah Indonesia, data jumlah penderita covid dan penderita yang meninggal juga semakin meningkat. Hal ini patut menjadi perhatian bagi seluruh lapisan masyarakat untuk lebih meningkatkan protokol kesehatan dan peningkatan imunitas tubuh. Apalagi saat ini pemerintah juga mengeluarkan peraturan terkait PPKM darurat Jawa-Bali untuk membatasi mobilitas masyarakat demi mencegah lonjakan kasus positif. Rumah sakit di berbagai wilayahpun banyak yang menyatakan overload dan tidak lagi menerima pasien dengan covid. Belum lagi, persediaan oksigen yang menipis dan semakin sulit dicari. Hal inipun menjadi problematika baru dalam penanganan wabah ini. Apabila dilist tentu kekurangan kita masih sangat banyak dan panjang. Tetapi, saya ingin berfokus pada upaya bertahan menjaga imunitas bukan pada panjangnya keluh kesah yang hingga kali ini belum ada jawaban. Akhirnya, semoga wabah ini segera berakhir dan kita diberi kekuatan untuk tetap diberikan kesehatan.