Soto Rempah Kedaton

Soto Rempah Kedaton

Berawal dari persahabatan saya dengan beberapa rekan dalam program pemberdayaan masyarakat, sekelebat ide ini muncul dalam diskusi ringan di suatu sore. Lakukan sesuatu yang mudah, ringan, dibutuhkan tetapi tetap memberikan nilai manfaat. Itulah yang menjadi perenungan terdalam saya akhir-akhir ini di sela penyelesaian tugas kuliah. Sahabat saya, IMG-20190714-WA0008 Yudi, membuat gairah saya untuk mengembangkan kegiatan lain yang di luar jalur saya menggeliat. Pilihan itu jatuh pada “kuliner”. Gayung sayapun bersambut. Pak Ismed dan Bu Yanti memberikan senyum sumringah. Akhirnya, kamipun mewujudkannya dalam bentuk Griya Dahar di Joglo Putri Kedaton. Setelah sekian lama Joglo beraura sepi kini joglo kembali bernyawa dengan hadirnya Soto Rempah Kedaton.

Kuliner, memang bukan bidang saya tetapi arus dan passion untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda seringkali menyentuh dan menggelitik otak saya. Keinginan inipun tampaknya juga menjadi salah satu cara Alloh mempertemukan saya dengan keluarga Bapak Ismed dan Ibu Yanti yang memiliki keahlian di dapur. Kalau orang biasa mengatakan saya itu semacam gelas ketemu tutup. Sumbu ketemu uceng. Klop.  

Dalam hal pemilihan menu saya memang tidak terlibat langsung tetapi ide menyegarkan dengan seporsi soto dan es teh atau es jeruk tampaknya menjadi pilihan yang tepat di pagi hari. Bagi yang melewati Jalan Nusa Indah Condongcatur No 33 sekiranya dapat mampir dan mencicipi olahan soto rempah yang dibuat dengan cita rasa khas dan perpaduan rempah yang lengkap. Potongan kentangpun menjadi sentuhan manis yang melengkapi kesegaran soto ini. Masih dengan mengangkat soto Jogja yang bening dan tirisan jeruk nipis semakin membuat rasa soto rempah ngangeni.

Gudeg makanan khas Yogyakarta

Dinikmati bersama sate ampela

Jangan bilang kangen kalau belum mencoba

Soto rempah kedaton memang tak ada duanya

Hikmah Lebaran

Hikmah Lebaran

Tak terasa Juni telah berjalan separuh menuju penghabisan. Meski begitu, hiruk-pikuk lebaran masih terasa bingarnya hingga sekarang. Sebagian besar pemudik sudah kembali meninggalkan kampung halaman. Kembali dengan rutinitas harian dan pekerjaan. Anak-anak kembali ke gerbang sekolah sebelum menerima hasil belajar. Semua orang kembali dengan dunianya. Momen puasa dan lebaran mampu mengumpulkan keluarga yang sudah terpisah lokasi sekian lama.

Semestinya memang momen lebaran memang menjadi momen yang istimewa untuk saling bersilaturahmi dan melupakan-meniadakan kesalahan. Dalam salah satu riwayat pernah disebutkan bahwa malaikat membawa catatan amal ibadah menghadap Alloh SWT tetapi amalan tersebut belum diterima sebelum dia (manusia) berdamai dengan saudaranya yang bertikai.

Begitulah hikmah lebaran yang sangat dasyat agar kita dapat saling memaafkan dan kembali fitri. Kembali menjalani kehidupan tanpa beban di masa lalu.

Sahabat beauty, momen bersilaturahmi dengan tetangga dan kerabat sering kali juga menguras tenaga dan pikiran. Tak jarang pula bagi yang kondisi tubuhnya kurang mendukung berakibat fatal hingga jatuh sakit. Kalau sudah dalam kondisi seperti ini sebaiknya tubuh diberi waktu untuk beristirahat. Tidak selamanya tubuh siap menerima tekanan dan terposir dengan berbagai hal yang harus disiapkan menjelang lebaran.

Selain fisik, ada lagi hal yang tidak kalah penting dan sering kali membuat sebagian besar orang merasakan sakit “pikiran”. Salah satunya adalah merebaknya gaya hidup agar terlihat lebih mampu oleh lingkungannya dengan menggunakan asesoris maupun hal-hal yang dianggap dapat memberikan decak kagum. Hp baru, mobil, pasangan, kehadiran anak, pendidikan, pekerjaan sering kali menjadi bahan obrolan yang tidak sedikit menyentil bahkan menyakitkan hati. Tentu kita sebagai muslim yang baik wajib untuk berhati-hati dalam berucap agar tidak menyakiti orang lain dan menambah daftar dosa baru bagi kita hehe… :-) Contoh sederhana saat kita melihat pasangan yang sudah lama menikah dan belum memiliki anak biasanya kalimat yang muncul pertama adalah: “Kapan punya baby?”. Sebuah pertanyaan sederhana yang sebenarnya cukup menusuk bagi yang bersangkutan. Sahabat, semua orang yang menikah tentu ingin memiliki keturunan. Akan tetapi, kapan sesorang diberi amanah oleh Alloh untuk memiliki keturutan bukanlah wewenang manusia. Pertanyaan yang tak elokpun nantinya dapat meruncingkan perasaan dan pikiran bagi pasangan yang bersangkutan terlebih bagi para perempuan. Sudah saatnya kita menahan diri untuk tidak mudah mengghibah terhadap kekurangan dan ketidakberuntungan orang lain. Kita tidak tahu seberapa besar mereka telah berusaha dengan kekuatan mereka. Marilah lebaran ini kita jadikan sebagai titik poin untuk menjadikan diri kita lebih baik, lebih bijaksana. (Rd/14-06)

Generasi Milenial-Harapan Kebijaksanaan

Generasi Milenial-Harapan Kebijaksanaan

           Generasi-milenial

Bertumbuh dalam kebijaksanaan seakan menjadi sebuah hal yang mustahil di era digital. Meski begitu, bukan berarti hal ini menjadi kenyataan yang sulit diwujudkan. Generasi milenial saat ini yang identik dengan alat komunikasi-gawai-seringkali menyuburkan sifat individualistik, apatis, dan tempramental. Berbagai kegiatan yang dihelat seperti ASEAN GAME 2018 inipun tak luput dari euforia kaum muda. Berbagai komentar positif dan negatif juga ramai di sosial media. Apabila menilik sedikit ke belakang tentang berbagai komentar nitizen tersebut,  kita dapat menarik sebuah benang merah yaitu, kaum muda menjadi gelombang baru yang memiliki kekuatan yang sangat besar.

            Kekuatan generasi milenial ini menjadi era kebangkitan baru bagi Indonesia. Hal ini juga ditenggarai dengan banyaknya pengusaha muda di tanah air yang berkibar di berbagai lini. Tingkat optimisme dan keberhasilan banyaknya selebriti muda maupun selebgram baru ikut andil memotivasi dan menciptakan tren generasi milenial untuk menjadi pengusaha. Keadaan ini tentu menjadi iklim yang baik karena selain meningkatkan kekuatan ekonomi suatu bangsa, secara spesifik para kaum muda telah memiliki kesadaran untuk tidak tergantung orang lain dengan menentukan masa depannya masing-masing.

            Di sisi lain, menurut saya, peluang yang diambil oleh para generasi muda ini telah mampu menetralisir kegalauan akankah generasi muda mampu menjadi generasi bijak. Meskipun tentu masih terdapat beberapa celah yang kurang sempurna tampaknya ini merupakan sebuah usaha yang baik dari para milenial. Di sisi lain, generasi milenial saat ini tidak dapat dipandang enteng sebelah mata karena mereka generasi cerdas yang dibekali dengan aksebilitas arus informasi yang mudah, murah, dan memadai.

            Dalam perkembangannya, mendekati era pilihan presiden dan DPRD Provinsi maupun kabupaten, kaum milenial terlihat cukup aktif dan semakin menggeliat di dunia maya maupun di dunia nyata. Hal ini terlihat dengan animo para generasi muda yang dengan terang-terangan ikut berkolaborasi untuk memeriahkan pesta demokrasi tersebut baik sebagai pendukung, pengamat, simpatisan, maupun sekedar komentator. Hal ini tentu merupakan salah satu pertanda yang apik bahwa generasi muda sudah lebih aware dengan berbagai hal yang terjadi di sekelilingnya. Tentu, saya meyakini bahwa generasi muda yang notabene masih seringkali terperangkap darah merah jambu ini ternyata cukup mampu menangkap momentum dengan baik sehingga dapat menjadikan demokrasi semakin hidup. (Rd/5-9)

Generasi Milenial, Generasi Pengubah Zaman

Generasi Milenial, Generasi Pengubah Zaman

Bertumbuh dalam kebijaksanaan seakan menjadi sebuah hal yang mustahil di era digital. Meski begitu, bukan berarti hal ini menjadi kenyataan yang sulit diwujudkan. Generasi milenial saat ini yang identik dengan alat komunikasi-gawai-seringkali menyuburkan sifat individualistik, apatis, dan tempramental. Berbagai kegiatan yang dihelat seperti ASEAN GAME 2018 inipun tak luput dari euforia kaum muda. Berbagai komentar positif dan negatif juga ramai di sosial media. Apabila menilik sedikit ke belakang tentang berbagai komentar nitizen tersebut, kita dapat menarik sebuah benang merah yaitu, kaum muda menjadi gelombang baru yang memiliki kekuatan yang sangat besar.

 

Kekuatan generasi milenial ini menjadi era kebangkitan baru bagi Indonesia. Hal ini juga ditenggarai dengan banyaknya pengusaha muda di tanah air yang berkibar di berbagai lini. Tingkat optimisme dan keberhasilan banyaknya selebriti muda maupun selebgram baru ikut andil memotivasi dan menciptakan tren generasi milenial untuk menjadi pengusaha. Keadaan ini tentu menjadi iklim yang baik karena selain meningkatkan kekuatan ekonomi suatu bangsa, secara spesifik para kaum muda telah memiliki kesadaran untuk tidak tergantung orang lain dengan menentukan masa depannya masing-masing.

 

Di sisi lain, menurut saya, peluang yang diambil oleh para generasi muda ini telah mampu menetralisir kegalauan akankah generasi muda mampu menjadi generasi bijak. Meskipun tentu masih terdapat beberapa celah yang kurang sempurna tampaknya ini merupakan sebuah usaha yang baik dari para milenial. Di sisi lain, generasi milenial saat ini tidak dapat dipandang enteng sebelah mata karena mereka generasi cerdas yang dibekali dengan aksebilitas arus informasi yang mudah, murah, dan memadai. (Rd/5-9)

Sekolah itu Penting

Sekolah itu Penting

Beberapa hari terakhir pemberitaan media tanah air ramai dengan berita kelulusan Iqbal Ramadhan (Eks CJR) yang baru saja lulus dari UWC (United World Collages). Pemeran tokoh Dilan yang masih melekat di hati masyarakat ini memang terbilang sebagai aktor yang cerdas dan mengutamakan pendidikan. Selain Iqbal, ada juga sederet nama artis Indonesia seperti Cinta Laura, Tasya kamila, dan Gita Gutawa yang tercatat mengenyam pendidikan di luar negeri dan sejenak rehat dari dunia keartisan. Melihat semakin banyaknya artis yang berprestasi di dunia akademik tersebut tentu merupakan prestasi tersendiri. Ketika di sekitar kita banyak anak muda yang menghabiskan waktu dengan kegiatan tidak jelas dan cenderung mengarah ke hal-hal negatif, para artis ini menjadi salah satu rule model bagi generasi muda yang positif.

Sahabat beauty, sejatinya, sekolah tidak akan membuat pandai. Akan tetapi sekolah akan membuat seorang individu menjadi lebih terasah pengetahuannya, terampil dalam penyelesaian tugas, konsisten yang berarti j sama halnya membentuk sikap tanggung jawab, ketepatan pengambilan keputusan, dan pembentukan karakter yang baik. Implementasi seperti ini hanya ada di dunia pendidikan. Meskipun perlu digarisbawahi bahwa sebaik-baiknya sistem pasti masih ada celah yang kosong. Akan tetapi, hal semacam ini bukan lantas menjadi alasan untuk berhenti menimba ilmu dari bangku sekolah.

Kalau kita mau sedikit merenung, banyak orang yang sebenarnya rela bersusah payah untuk tetap mengenyam pendidikan meski dengan perjuangan yang luar biasa. Mereka-mereka yang tidak memiliki kebebasan finansial dan kesempatan saja memiliki semangat yang luar biasa harusnya mampu menjadi motivasi bagi yang lain untuk tetap semangat meningkatkan potensi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sahabat beauty, jangan berhenti belajar meski rentetan usia sudah mengular. Jangan berhenti berbuat baik meski kadang kondisi lingkungan tidak selalu berpihak balik. Jangan berhenti berproses hingga tak ada kata lain selain tetap belajar. (Rd/23-05)

Pelatihan Kosmetika Tradisional di Kalimantan Selatan

Pelatihan Kosmetika Tradisional di Kalimantan Selatan

IMG20180424075813Seakan mimpi ketika bisa kembali ke daerah dengan ikon Bekantan ini. Undangan dari Dinas Perindustrian untuk memberikan materi tentang pelatihan kosmetika tradisional menjadi alasan yang kuat hingga saya bisa naik kelotok, menikmati soto khas Banjar, hingga berkunjung ke Pulau Kembang. Terlebih pertemuan ini dipermanis dengan semangat ibu-ibu dari berbagai penjuru kabupaten di wilayah Kalimantan Selatan.

Banyak pelajaran yang saya ambil dari pertemuan singkat ini, salah satunya adalah rasa persaudaraan, rasa memiliki, dan keinginan untuk maju. Ibarat sepeda, agar tetap melaju kedua pedalnya harus dikayuh. Begitu pula dengan kehidupan kita, semua akan bergerak maju apabila kita mampu menyeimbangkan want (keinginan/niat) dan action (tindakan). Sehebat apapun ilmu yang kita miliki, sebanyak apapun uang yang kita miliki, apabila kita tidak mau bertindak maka ketertinggalan yang akan kita peroleh. Begitu pula sebaliknya apabila kita banyak bertindak tanpa landasan ilmu maka hasilnya pun tidak akan optimal.

Dari ilustrasi di atas, kita dapat mengambil sebuah benang merah harus ada keselarasan dalam setiap keputusan yang kita ambil. Saya sangat mengapresiasi para ibu-ibu yang kemarin memang benar-benar berniat hadir dan konsisten mengikuti pelatihan hingga akhir meskipun banyak hal yang menghalangi.

Sahabat Beauty, ilmu itu ibarat napas. Tak pernah habis meski kita telah bernapas puluhan tahun. Begitulah ilmu. Sakin cepat kita bernapas dan menyerap oksigen masih banyak lagi oksigen yang bertebaran mengelilingi kita. Artinya apa? Kitalah yang harus pandai-pandai menangkap ilmu tersebut untuk meningkatkan kapabilitas (kemampuan) dan kompetensi (keahlian) kita. Jangan pernah merasa paling pandai karena sudah punya banyak pengalaman, tetapi juga jangan merasa paling bodoh karena kurang pengalaman. Hidup itu berproses. Tidak ada hasil yang mengkhianati proses selama kita konsisten menjaga api semangat dalam diri kita. (Rd/21-05)

Gadget Oh Gadget…

Gadget Oh Gadget…

Sikap apatis sudah semakin membudaya dengan seiring dengan tingginya pengguna sosial media. Bahkan, sangat mudah menemui orang menggunakan gadgetnya di jalan-jalan. Hal ini memunculkan konsekuensi kurangnya aware seseorang dengan lingkungan. Tentu hal ini juga meningkatkan resiko kecelakaan dalam berlalu-lintas. Bukan itu saja, tingkat komunikasi personalpun saya rasa juga menurun seiring berkembangnya gadget. Hampir sebagian besar orang lebih asik dengan gadgetnya daripada menyapa sekelilingnya. Dan hal semacam ini tidak hanya melanda kaum muda tetapi yang tua-tua juga ikut andil dalam penyebaran virus  apatis sosial ini (meskipun tidak signifikan).

Contoh sederhana ketika saya makan di salah satu warung khas mahasiswa di daerah Jalan Kaliurang. Sejak pertama kali dibuka warung ini memang tak pernah sepi pembeli. Sambil menikmati makan siang, masuklah sepasang remaja (cewek dan cowok) yang menenteng tas besar. Tas tersebut lalu diletakkan di kursi sebelah saya sebagai tanda cim tempat kalau bahasa anak muda hehe… Berlalulah kedua orang ini menuju meja reservasi untuk memesan makanannya. Belum ada 5 menit kursi yang sudah di-cim oleh pasangan tadi ditempati oleh seorang Mas-mas. Entah tidak memperhatikan atau memang tidak tahu Si Mas ini dengan PD dan enjoy menikmati makanannya.  Terang saja Si Cewek yang meletakkan tas di kursi tersebut mbesengut (kesal). Setelah membayar makanannya Si Cewek mengambil tasnya dan berpindah ke lain kursi tanpa ngomong  sepatah katapun dengan muka yang tidak terlalu enak dilihat. Sementara Mas-Mas yang mengambil alih kursi terlihat cuek dan tetap berkonsentrasi dengan makanannya. Saya tergelitik melihat ekspresi Mas-Mas yang seakan tak bersalah menyerobot kursi orang lain. Sementara Si Cewek juga seakan malas untuk berbicara dengannya. Sebuah gesekan sosial kecil terjadi di warung ini. Saya jadi berpikir apakah ini juga salah satu dampak dari suburnya gadget yang membuat orang malas untuk berkomunikasi? Entahlah. Yang jelas mengamati hal-hal kecil semacam ini membuat saya mengerti secara lebih detail tentang tingkah laku manusia.

Ada sebagian orang yang memang eksis di media sosial dan di dunia nyata. Akan tetapi, juga tidak sedikit yang hanya aktif di salah satunya. Nah, yang poin terakhir ini yang sering kali menciptakan jurang yang mempengaruhi kehidupan sosial manusia. Tidak dipungkiri gadget telah mempermudah kehidupan manusia dari berbagai segmen. Mulai dari urusan pekerjaan, kebutuhan rumah tangga, rekreasi, bahkan layanan pembelian tisu bisa dilakukan hanya melalui perangkat genggam ini. Begitu mudahnya manusia mengakses berbagai hal inilah yang seringkali menciptakan generasi malas dan antisosial. Banyak yang terlihat bisa berhaha-hihi di media sosial tetapi asing ketika bertatap muka. Tidak sedikit juga yang merasa tertipu dengan media sosial karena tampilan di dunia maya terlihat lebih energik dan powerfull dibanding di dunia nyata. Kontroversi-kontroversi semacam inilah yang membuat persinggungan di dunia maya menjadi sangat heboh. Apabila hal-hal semacam ini dibiarkan maka semakin lama nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat akan terkikis dengan sendirinya dan diganti dengan nilai-nilai yang cenderung egosentris dan antisosial.

Sebagai pendidik tentu saya agak tersenggol hatinya. Meski begitu inilah realita yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Kita tidak akan sanggup menolak perkembangan dan juga tidak bisa mengasingkan diri karena kita hidup dalam masyarakat yang terintegrasi. Lalu solusi apa yang ditawarkan? Bagi saya tak ada hal lain kecuali ikut ambil bagian dalam perkembangan tetapi dengan benteng konsep diri yang jelas. Hal ini agar kita tidak tergerus dalam arus pergolakan zaman tetapi juga tetap update dengan perkembangan melalui up-grade kemampuan. Dengan memiliki bekal karakter dan pola pikir yang mumpuni tentu kita tak akan pernah menjadi abdi gadget tetapi mampu memaksimalkan perannya guna mendukung fungsi kehidupan. (Rd/13-09)

No PNS!

No PNS!

Suatu sore sembari menunggu mengajar saya ngobrol dengan salah satu staf saya. Kebetulan staf saya ini juga memiliki passion di bidang pendidikan. Saya menceritakan bahwa saat ini sedang ramai lowongan PNS dari berbagai departemen dan kementerian. Kulihat raut mukanya kosong dengan tatapan yang masih menerawang.

Mungkin suaminya tertarik, Nduk,” kataku memecah sore.

Dia masih tersenyum. Seraya menarik napas dia menjawab,”Ibu sangat perhatian pada saya. Terima kasih banyak tapi saya dan suami sebelum nikah sudah memiliki kesepakatan,” jawabnya.

Sayapun mengernyitkan kening. Sempat menebak-nebak juga apa kiranya yang sedang bergulat di pikiran anak muda ini. Ternyata tanda tanyakupun terjawab 10 menit kemudian.

“Ibu, boleh saya bercerita sedikit?” tanyanya.

“Tentu. Tentu saja boleh.”

“Keluarga saya bukan berasal dari orang yang berpendidikan tinggi. Jumlah saudara Bapak saya 9, demikian juga Ibu saya. Dan di masa-masa dahulu pendidikan bukanlah prioritas yang wajib didahulukan. Dari 9 saudara tersebut hanya 1 orang yang jadi PNS dan itupun dengan catatan bahwa banyak adik-adik yang harus menopang dan rela sekolahnya cukup di bangku sekolah dasar, termasuk bapak ibu saya. Seiring berkembangnya zaman, Bapak Ibu saya selalu berpesan bahwa sekolahlah semampu kamu agar kamu bisa memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin manusia. Jangan biarkan saudara-saudaramu berada dalam keterbelakangan karena ketidaktahuannya. Jadilah yang bisa membimbing dan memberi contoh bagi orang-orang di sekitarmu. Itu pesan Bapak Ibu saya. Dan sayapun sudah berjanji pada ibu orang tua saya untuk sekolah setinggi-tingginya, meraup ilmu sebanyak-banyaknya agar orang-orang di desa saya tidak tertinggal pemikirannya. Mereka harus hidup dengan dengan lebih baik dan lebih layak. Dan, sampai kapanpun iklan PNS berseliweran di depan saya tak merubah sedikitpun niat saya untuk membesarkan desa saya dengan tangan saya sendiri,” katanya panjang lebar.

Sejenak saya termangu mendengar kata-katanya. Hal ini yang membuat saya sejenak kembali tersadar tentang arti membangun. Hal yang sangat jarang di era gadget yang memudahkan orang menerima dan mengirim informasi tetapi menjadi tidak menarik karena komitmen pada janji. Dari sini saya kembali belajar (sekaligus diingatkan) bahwa janji adalah hutang yang bukan saja harus dibayar tapi menuntut tanggung jawab dalam pelunasan dengan tindakan. (Rd-12/9)

Saya (juga) Sedang Belajar, Le…

Saya (juga) Sedang Belajar, Le…

Pagi ini saya dikejar deadline janjian untuk mengerjakan tugas negara (baca: kampus). Dengan pertimbangan waktu agar lebih efisien pergilah saya naik motor. Tanpa prasangka apapun, saya memarkir motor di depan salah satu toko franchise terkenal di Jalan Kaliurang. Anak sayapun gemar nongkrong di sini ketika bersama teman-temannya baik sekedar ngobrol ataupun mengerjakan tugas. Tanpa babibu saya langsung beranjak ke tempat teman yang persis berada di samping toko tersebut. Di tempat teman saya inilah saya biasa berguru meminta kawruh dan berdiskusi tentang banyak hal. Dengan kata lain, saya sudah sangat akrab dengan toko ini sebagai bagian dari keseharian saya.

Singkat cerita setelah dua jam sayapun kembali ke toko tersebut untuk membeli sesuatu. Sebelum masuk ke pintu utama saya melirik ke motor saya. Kok ada yang janggal? Setelah diperhatikan ternyata helm di sepeda motor saya hilang. Lalu, mampirlah saya ke tukang parkir yang berada di depan toko tersebut. Dari sikapnya yang sedikit arogan saya berpikir mungkin memang seperti itu rata-rata sikap orang-orang yang biasa berada di lingkungan serupa. Bahkan, Sang Tukang Parkir malah menuduh saya mau kabur dan meninggalkan motor sembarangan. Duh, kok bahasanya agak nyolot juga. Sebagai pelanggan yang notabene cukup loyal, saya merasa sedikit kurang nyaman dengan sikap dan bahasanya yang cukup menohok. Sayapun bergegas ke counter dan meminta untuk bertemu area manajer. Datanglah seorang wanita yang cukup imut menemui saya dan kami ngobrol ngalor-ngidul. Dari caranya meng-handle masalah, saya yakin Sang Manajer ini juga terbiasa menemui masalah serupa. Gayungpun bersambut dan bertemulah saya dengan Mbak Manajer, Mas Tukang Parkir diiringi oleh Ibu Juragannya. Kamipun terlibat obrolan serius yang cukup lama sekitar setengah jam. Dari sana saya belajar bahwa lingkungan berpengaruh sangat besar terhadap kepribadian seseorang. Sang Mas Parkir dan Ibu Juragan tak pelak malah menitikkan air mata. Saya pun ikut terharu.

Bolehlah kita bekerja dimanapun dengan profesi apapun yang sesuai dengan passion-nya. Akan tetapi, jangan sampai karena porsi pekerjaan mengendalikan kita hingga menjadi arogan dan meninggalkan tata krama dalam kehidupan. Terlebih, kita hidup dalam tatanan masyarakat yang tentu tidak boleh bertindak sembarangan. Ada nilai-nilai dalam masyarakat kita yang apabila dilanggar akan menyebabkan adanya cidera dalam tatanan kita. Mungkin di lain sisi hal semacam ini dipandang sepele tetapi bagi sebagai pendidik saya merasa sangat eman kalau nilai-nilai tersebut luntur tanpa ada pengawalan. Saya yakin di hati semua orang tetap menyimpan kebaikan. Sekeras apapun hati seseorang pasti tetap ada sisi yang bisa disentuh kebaikan. Itulah salah satu point humaniora yang kadang dilupakan orang di zaman digital ini. Semoga kita senantiasa dirahmati Allah agar selalu tetap berada dalam kebaikan. (Rd-29/8)