Belajar dari Bola Bekel

Belajar dari Bola Bekel

          Bola adalah barang sederhana yang tidak asing dalam keseharian kita. Bentuknyapun sederhana. Lingkaran. Dengan bentunya yang tanpa sudut memudahkannya untuk bergerak kemanapun dia mau. Sangat fleksibel. Apabila kita menggelindingkan sebuah bola di tempat yang datar, bola akan menggelinding lurus. Hal ini sama  persis dengan kehidupan kita. Kita adalah makluk yang serba lurus pada dasarnya. Ketika kita mendapat sebuah tekanan, gaya, ataupun dorongan pasti akan melesat lurus ke depan. Dan dalam perjalanan itu ketika bola menabrak tembok, ia akan memantul dan mengarah ke sudut yang berbeda. Sahabat beauty, pernahkah mendapat tekanan seperti bola tersebut? Hasil dari pertemuan antara tekanan dengan permukaan akan mengakibatkan munculnya sebuah gerakan ke sudut yang berbeda atau bahkan membalik. Sama halnya dengan kita, ketika dihantam sebuah kenyataan yang keras, kita harus segera bertolak dan mengambil sudut pandang lain. Lebih konkritnya, yah mau tidak mau kita harus menempuh jalur yang berbeda yang mungkin bisa saja menyerong, menyamping, ataupun sejenak kembali ke titik awal. Hal ini bukan berarti kita mundur, hanya sekedar memastikan titik poin yang lebih pas, lebih presisi, dan lebih baik untuk start ke depan yang lebih hebat.

          Di sisi lain, ketika kita menjatuhkan bola secara vertikal, bola akan memantul naik. Semakin keras hentakan yang kita berikan, semakin tinggi bola melambung. Dalam kehidupan kita, semakin tinggi press on yang diberikan, akan semakin tinggi kreativitas yang tumbuh. Semakin komplek daya pikir yang tercipta, semakin besar kemungkinan untuk menjadi lebih hebat. Kenapa? Biasanya kita tak akan tahan berlama-lama dalam situasi yang kurang nyaman sehingga mencari cara paling mudah untuk menemukan solusi. Proses inilah yang akan membentuk pribadi kita menjadi individu yang lebih kreatif baik dalam hal berpikir maupun bertindak.

          Saya seringkali menemui orang-orang yang dihimpit keadaan, hidupnya berubah menjadi pribadi yang luar biasa. Tentu mereka tidak mendapatkan kehebatan dalam bertahannya secara instan, tetapi melalui sebuah proses yang mungkin bisa dibilang melelahkan dan penuh air mata. Tetapi percayalah bahwa proses ini akan menjadi salah satu cerita manis yang pantas untuk diceritakan kelak. Begitupun dengan sahabat beauty, apapun tekanan yang diberikan dalam kehidupan kita jangan dijadikan kambing hitam dengan menyalahkan keadaan. Jadikanlah sebagai pelecut untuk melakukan sesuatu yang lebih besar, lebih hebat, dan lebih bermakna. (Rd-04/06)

Sedikit Cerita Tentang Bantuan Covid

Sedikit Cerita Tentang Bantuan Covid

Selepas subuh, saya membuka facebook. Seorang teman lama yang jarang berkomunikasi tiba-tiba mengomentari status saya. Sebenarnya saya tidak terlalu akrab dengannya. Ketika sapaan halo mengudara, diapun bercerita tentang kondisi terkini di lingkungannya. Situasi sulit, ekonomi sedang lemah, dan ditambah dengan pelepasan napi yang semakin meresahkan masyarakat. Tampaknya hal ini menjadi kegelisahan semua warga masyarakat. Di tengah bahaya intaian virus, kita semua juga diuji dengan bahaya keamanan. Pemberitaan di berbagai media tentang kehilangan, tertangkapnya beberapa napi yang kembali berulah, dan sebagainya.

 

Sahabat beauty, saat ini tidak mudah bagi kita dalam menghadapi pandemi ini. Meskipun harga-harga bahan kebutuhan tidak naik secara signifikan kecuali masker dan hand sanitizer tampaknya tetap sulit bagi sebagian masyarakat untuk mencukupi kebutuhan. Pekerja seperti buruh harian lepas, pedagang, dan pekerja terutama di bidang jasa sangat terdampak dengan adanya serangan covi-19. Ketidakstabilan dalam pendapatan dan terbatasnya akses kerja menjadi poin utama sehingga roda ekonomi tidak dapat berputar seperti biasanya.

 

Di sisi lain, bantuan dari pemerintah, swasta, maupun personal memang sudah ada. Hanya saja belum bisa menyentuh lapisan tertentu terutama di daerah pedesaan. Banyak warga masyarakat yang sangat membutuhkan tetapi tidak memiliki akses untuk mendapat bantuan. Di satu sisi, orang-orang yang notabene masih mampu untuk bekerja malah mendapat bantuan. Hal inipun menimbulkan dilema tersendiri. Belum lagi dalam hal pendistribusian bantuan, terdapat beberapa media yang menyampaikan tidak tepat sasaran. Untuk bantuan dari pemerintah, hal ini langsung disikapi dengan penyampaian bantuan melalui polri langsung ke alamat masing-masing. Langkah yang diambil polri tentu sangat luar biasa sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat tanpa harus bepergian.

 

Semoga kita senantiasa kuat dalam situasi apapun.

Saling bergandeng tangan dan saling mendukung.

 

Sepatu

Sepatu

Semua orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya, bagaimanapun keadaannya. Suatu hari saya pernah bertemu dengan guru PAUD dari sebuah kabupaten di Yogyakarta. Beliau bercerita bahwa menjadi seorang guru PAUD itu ceritanya luar biasa. Banyak hal yang seringkali memantik perasaan. Ada satu cerita yang menarik dari salah satu ibu yang selalu menitipkan pesan agar anaknya tidak boleh ditemui oleh siapapun kecuali atas izinnya. Usut punya usut ternyata Sang Ibu bermasalah dengan mantan suami karena mantan suami bermasalah dengan kejiwaannya.

Sering kali, Sang Ayah datang ke sekolah dan meminta untuk bertemu dengan anaknya. Beberapa guru yang ditemui selalu menolak mempertemukan Sang Ayah dengan anaknya karena alasan izin. Suatu saat datanglah Sang Ayah ke sekolah tersebut. Karena sudah hafal, Ibu Guru langsung menemui Sang Bapak dan menyampaikan permohonan maaf seperti biasa. Sayangnya, Sang Ayah tetap tak bergeming dan malah mengeluarkan sebuah alat dari dalam tasnya. Ternyata dia mengeluarkan sebuah meteran kayu. Sambil memegang gerbang Sang Bapak berkata,” Bu, saya hanya ingin mengukur sepatu anak saya. Saya ingin membelikan sepatu baru”. Sontak pernyataan ini membuat suasana sekolah sore itu berubah hening dan haru. Beberapa guru terlihat mengelap dan menyembunyikan mata. Dari kejadian ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sekurang apapun keadaan orang tua, mereka akan berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik bagi anaknya. Hal inilah yang harus disadari oleh generasi milenial zaman sekarang.

Di berbagai media sering muncul berita-berita kedurhakaan anak terhadap orang tuanya mulai dari tindakan fisik, mencemooh, tidak mengakui, hingga menelantarkan. Sementara orang tua sudah melakukan banyak hal untuk anaknya. Di usia senjapun mereka seharusnya mendapatkan tempat yang layak bukan semakin terpinggirkan karena tergerus pola tingkah laku zaman. Semoga kita selalu diberi kesempatan untuk berbakti dan memberikan yang terbaik bagi orang tua. (Rd)

Memberi Karena Kasihan Tapi…

Memberi Karena Kasihan Tapi…

          Semua orang memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan konfliknya. Salah satu karyawan saya pernah bercerita bahwa di Jalan Janti sering ada penunggunya. Penunggu ini tentu tidak selalu identik dengan hantu hehe. Para penunggu kondisinya berbeda-beda. Akan tetapi mereka semacam menjual kelemahannya untuk menarik simpati dan mengumpulkan donasi. Salah satu contoh ada seorang ibu yang setiap hari pekerjaannya memulung botol bekas. Di tengah kesehariannya mereka biasa berhenti di salah satu titik. Melepas lelah sambil “menunggu uluran” dari pengguna jalan. Beberapa kali terlihat pengguna jalan yang berhenti sejenak untuk sekedar berdialog atau membawa oleh-oleh untuk anak semata wayangnya yang kini berusia 5 tahun. Anak ini selalu menyertai kemanapun Sang Ibu membawa gerobaknya. Bahkan di sebuah kesempatan, Si Ibu tanpa risi membuka perutnya dan menunjukkan beberapa bekas sayatan operasi saat melahirkan Sang anak yang saat itu dilakukan dengan caesar dan dengan bantuan BPJS tentunya. Sang suami sendiri dikabarkan tidak bekerja menurut penuturan Sang Ibu sehingga beliau harus mengepul botol di sore hari setelah sang anak pulang sekolah. Saat itu beliau bercerita bahwa mereka menumpang hidup di lahan kosong milik pengepul sampah. Sebenarnya ketika menilik kondisi fisik Sang Ibu dan putranya, siapapun pasti akan merasa iba. Dengan kondisi yang serba kekurangan mereka mencoba tetap bertahan hidup meskipun kondisinya cukup memprihatinkan. Pengguna jalan yang mendengar ceritanya pasti tak tahan untuk segera mengelap air matanya, termasuk karyawan saya.

          Di tempat yang terpisah seorang ibu berusia di bawah 40-an menggelar tikar plastik di salah satu ruas jalan samping Selokan Mataram. Sang Ibu ini setia menggelar tikarnya setelah jam 3 sore hingga malam. Bersama anaknya yang berusia di bawah 1 tahun, dia menunggu para pengguna jalan yang lewat. Tidak seperti ibu yang pertama, Si Ibu Taman ini tidak membawa peranti pekerjaannya. Beberapa kali terlihat mahasiswa yang berhenti sekedar memberi jajan atau mainan kepada sang anak. Dan lagi-lagi Ibu ini tetap memperlihatkan ketegarannya.

          Dua kasus di atas adalah satu dari ribuan kasus keluarga yang mencoba bertahan hidup dengan berbagai cara. Secara naluri, setiap orang pasti iba melihat kondisi orang-orang yang kurang beruntung tersebut. Sekelebat pasti tersirat ingin melakukan sesuatu untuk meringankan beban dengan memberikan bantuan baik uang, makanan, mainan, atau apapun yang sekiranya bisa dikategorikan meringankan beban. Di sisi lain, ada rasa yang muncul “kok gitu ya, aduh kasihan tapi” dan sebagainya saat praktik yang dijalankan untuk menjaring donasi dengan cara menjual kekurangannya.

          Sahabat beauty, dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali orang menggunakan kekurangannya untuk menarik simpati orang lain. Baik untuk kepentingan pribadi maupun memang untuk bertahan hidup. Apakah salah cara tersebut? Saya sendiri tidak bisa menghakimi hal tersebut sebagai sesuatu yang salah karena kondisi setiap orang tentu berbeda. Akan tetapi, apabila menilik lebih jauh, banyak juga masyarakat yang kekurangan tetapi mereka tetap bekerja dan berusaha dengan kemampuannya bukan dengan cara “meminta”.

          Sahabat beauty, sebagai makhluk sosial tentu kita tidak bisa lepas untuk saling memberi pertolongan. Akan tetapi, seyogyanya dan akan cukup bijaksana apabila hal-hal yang kita berikan mampu meringankan beban orang lain tanpa menjadi pelipur lara dengan menjadikannya “malas”. Malas dan terpuruk dengan keadaan sehingga mereka semakin menggantungkan hidup dengan meminta tentu bukan hal yang kita inginkan sebenarnya. Saya berharap, para dermawan dapat memberikan santunan sesuai sasaran tanpa melenakan.

Salam sosial dari Yogyakarta

19 Desember 2019

Soto Rempah Kedaton

Soto Rempah Kedaton

Berawal dari persahabatan saya dengan beberapa rekan dalam program pemberdayaan masyarakat, sekelebat ide ini muncul dalam diskusi ringan di suatu sore. Lakukan sesuatu yang mudah, ringan, dibutuhkan tetapi tetap memberikan nilai manfaat. Itulah yang menjadi perenungan terdalam saya akhir-akhir ini di sela penyelesaian tugas kuliah. Sahabat saya, IMG-20190714-WA0008 Yudi, membuat gairah saya untuk mengembangkan kegiatan lain yang di luar jalur saya menggeliat. Pilihan itu jatuh pada “kuliner”. Gayung sayapun bersambut. Pak Ismed dan Bu Yanti memberikan senyum sumringah. Akhirnya, kamipun mewujudkannya dalam bentuk Griya Dahar di Joglo Putri Kedaton. Setelah sekian lama Joglo beraura sepi kini joglo kembali bernyawa dengan hadirnya Soto Rempah Kedaton.

Kuliner, memang bukan bidang saya tetapi arus dan passion untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda seringkali menyentuh dan menggelitik otak saya. Keinginan inipun tampaknya juga menjadi salah satu cara Alloh mempertemukan saya dengan keluarga Bapak Ismed dan Ibu Yanti yang memiliki keahlian di dapur. Kalau orang biasa mengatakan saya itu semacam gelas ketemu tutup. Sumbu ketemu uceng. Klop.  

Dalam hal pemilihan menu saya memang tidak terlibat langsung tetapi ide menyegarkan dengan seporsi soto dan es teh atau es jeruk tampaknya menjadi pilihan yang tepat di pagi hari. Bagi yang melewati Jalan Nusa Indah Condongcatur No 33 sekiranya dapat mampir dan mencicipi olahan soto rempah yang dibuat dengan cita rasa khas dan perpaduan rempah yang lengkap. Potongan kentangpun menjadi sentuhan manis yang melengkapi kesegaran soto ini. Masih dengan mengangkat soto Jogja yang bening dan tirisan jeruk nipis semakin membuat rasa soto rempah ngangeni.

Gudeg makanan khas Yogyakarta

Dinikmati bersama sate ampela

Jangan bilang kangen kalau belum mencoba

Soto rempah kedaton memang tak ada duanya

Hikmah Lebaran

Hikmah Lebaran

Tak terasa Juni telah berjalan separuh menuju penghabisan. Meski begitu, hiruk-pikuk lebaran masih terasa bingarnya hingga sekarang. Sebagian besar pemudik sudah kembali meninggalkan kampung halaman. Kembali dengan rutinitas harian dan pekerjaan. Anak-anak kembali ke gerbang sekolah sebelum menerima hasil belajar. Semua orang kembali dengan dunianya. Momen puasa dan lebaran mampu mengumpulkan keluarga yang sudah terpisah lokasi sekian lama.

Semestinya memang momen lebaran memang menjadi momen yang istimewa untuk saling bersilaturahmi dan melupakan-meniadakan kesalahan. Dalam salah satu riwayat pernah disebutkan bahwa malaikat membawa catatan amal ibadah menghadap Alloh SWT tetapi amalan tersebut belum diterima sebelum dia (manusia) berdamai dengan saudaranya yang bertikai.

Begitulah hikmah lebaran yang sangat dasyat agar kita dapat saling memaafkan dan kembali fitri. Kembali menjalani kehidupan tanpa beban di masa lalu.

Sahabat beauty, momen bersilaturahmi dengan tetangga dan kerabat sering kali juga menguras tenaga dan pikiran. Tak jarang pula bagi yang kondisi tubuhnya kurang mendukung berakibat fatal hingga jatuh sakit. Kalau sudah dalam kondisi seperti ini sebaiknya tubuh diberi waktu untuk beristirahat. Tidak selamanya tubuh siap menerima tekanan dan terposir dengan berbagai hal yang harus disiapkan menjelang lebaran.

Selain fisik, ada lagi hal yang tidak kalah penting dan sering kali membuat sebagian besar orang merasakan sakit “pikiran”. Salah satunya adalah merebaknya gaya hidup agar terlihat lebih mampu oleh lingkungannya dengan menggunakan asesoris maupun hal-hal yang dianggap dapat memberikan decak kagum. Hp baru, mobil, pasangan, kehadiran anak, pendidikan, pekerjaan sering kali menjadi bahan obrolan yang tidak sedikit menyentil bahkan menyakitkan hati. Tentu kita sebagai muslim yang baik wajib untuk berhati-hati dalam berucap agar tidak menyakiti orang lain dan menambah daftar dosa baru bagi kita hehe… :-) Contoh sederhana saat kita melihat pasangan yang sudah lama menikah dan belum memiliki anak biasanya kalimat yang muncul pertama adalah: “Kapan punya baby?”. Sebuah pertanyaan sederhana yang sebenarnya cukup menusuk bagi yang bersangkutan. Sahabat, semua orang yang menikah tentu ingin memiliki keturunan. Akan tetapi, kapan sesorang diberi amanah oleh Alloh untuk memiliki keturutan bukanlah wewenang manusia. Pertanyaan yang tak elokpun nantinya dapat meruncingkan perasaan dan pikiran bagi pasangan yang bersangkutan terlebih bagi para perempuan. Sudah saatnya kita menahan diri untuk tidak mudah mengghibah terhadap kekurangan dan ketidakberuntungan orang lain. Kita tidak tahu seberapa besar mereka telah berusaha dengan kekuatan mereka. Marilah lebaran ini kita jadikan sebagai titik poin untuk menjadikan diri kita lebih baik, lebih bijaksana. (Rd/14-06)

Generasi Milenial-Harapan Kebijaksanaan

Generasi Milenial-Harapan Kebijaksanaan

           Generasi-milenial

Bertumbuh dalam kebijaksanaan seakan menjadi sebuah hal yang mustahil di era digital. Meski begitu, bukan berarti hal ini menjadi kenyataan yang sulit diwujudkan. Generasi milenial saat ini yang identik dengan alat komunikasi-gawai-seringkali menyuburkan sifat individualistik, apatis, dan tempramental. Berbagai kegiatan yang dihelat seperti ASEAN GAME 2018 inipun tak luput dari euforia kaum muda. Berbagai komentar positif dan negatif juga ramai di sosial media. Apabila menilik sedikit ke belakang tentang berbagai komentar nitizen tersebut,  kita dapat menarik sebuah benang merah yaitu, kaum muda menjadi gelombang baru yang memiliki kekuatan yang sangat besar.

            Kekuatan generasi milenial ini menjadi era kebangkitan baru bagi Indonesia. Hal ini juga ditenggarai dengan banyaknya pengusaha muda di tanah air yang berkibar di berbagai lini. Tingkat optimisme dan keberhasilan banyaknya selebriti muda maupun selebgram baru ikut andil memotivasi dan menciptakan tren generasi milenial untuk menjadi pengusaha. Keadaan ini tentu menjadi iklim yang baik karena selain meningkatkan kekuatan ekonomi suatu bangsa, secara spesifik para kaum muda telah memiliki kesadaran untuk tidak tergantung orang lain dengan menentukan masa depannya masing-masing.

            Di sisi lain, menurut saya, peluang yang diambil oleh para generasi muda ini telah mampu menetralisir kegalauan akankah generasi muda mampu menjadi generasi bijak. Meskipun tentu masih terdapat beberapa celah yang kurang sempurna tampaknya ini merupakan sebuah usaha yang baik dari para milenial. Di sisi lain, generasi milenial saat ini tidak dapat dipandang enteng sebelah mata karena mereka generasi cerdas yang dibekali dengan aksebilitas arus informasi yang mudah, murah, dan memadai.

            Dalam perkembangannya, mendekati era pilihan presiden dan DPRD Provinsi maupun kabupaten, kaum milenial terlihat cukup aktif dan semakin menggeliat di dunia maya maupun di dunia nyata. Hal ini terlihat dengan animo para generasi muda yang dengan terang-terangan ikut berkolaborasi untuk memeriahkan pesta demokrasi tersebut baik sebagai pendukung, pengamat, simpatisan, maupun sekedar komentator. Hal ini tentu merupakan salah satu pertanda yang apik bahwa generasi muda sudah lebih aware dengan berbagai hal yang terjadi di sekelilingnya. Tentu, saya meyakini bahwa generasi muda yang notabene masih seringkali terperangkap darah merah jambu ini ternyata cukup mampu menangkap momentum dengan baik sehingga dapat menjadikan demokrasi semakin hidup. (Rd/5-9)

Generasi Milenial, Generasi Pengubah Zaman

Generasi Milenial, Generasi Pengubah Zaman

Bertumbuh dalam kebijaksanaan seakan menjadi sebuah hal yang mustahil di era digital. Meski begitu, bukan berarti hal ini menjadi kenyataan yang sulit diwujudkan. Generasi milenial saat ini yang identik dengan alat komunikasi-gawai-seringkali menyuburkan sifat individualistik, apatis, dan tempramental. Berbagai kegiatan yang dihelat seperti ASEAN GAME 2018 inipun tak luput dari euforia kaum muda. Berbagai komentar positif dan negatif juga ramai di sosial media. Apabila menilik sedikit ke belakang tentang berbagai komentar nitizen tersebut, kita dapat menarik sebuah benang merah yaitu, kaum muda menjadi gelombang baru yang memiliki kekuatan yang sangat besar.

 

Kekuatan generasi milenial ini menjadi era kebangkitan baru bagi Indonesia. Hal ini juga ditenggarai dengan banyaknya pengusaha muda di tanah air yang berkibar di berbagai lini. Tingkat optimisme dan keberhasilan banyaknya selebriti muda maupun selebgram baru ikut andil memotivasi dan menciptakan tren generasi milenial untuk menjadi pengusaha. Keadaan ini tentu menjadi iklim yang baik karena selain meningkatkan kekuatan ekonomi suatu bangsa, secara spesifik para kaum muda telah memiliki kesadaran untuk tidak tergantung orang lain dengan menentukan masa depannya masing-masing.

 

Di sisi lain, menurut saya, peluang yang diambil oleh para generasi muda ini telah mampu menetralisir kegalauan akankah generasi muda mampu menjadi generasi bijak. Meskipun tentu masih terdapat beberapa celah yang kurang sempurna tampaknya ini merupakan sebuah usaha yang baik dari para milenial. Di sisi lain, generasi milenial saat ini tidak dapat dipandang enteng sebelah mata karena mereka generasi cerdas yang dibekali dengan aksebilitas arus informasi yang mudah, murah, dan memadai. (Rd/5-9)

Sekolah itu Penting

Sekolah itu Penting

Beberapa hari terakhir pemberitaan media tanah air ramai dengan berita kelulusan Iqbal Ramadhan (Eks CJR) yang baru saja lulus dari UWC (United World Collages). Pemeran tokoh Dilan yang masih melekat di hati masyarakat ini memang terbilang sebagai aktor yang cerdas dan mengutamakan pendidikan. Selain Iqbal, ada juga sederet nama artis Indonesia seperti Cinta Laura, Tasya kamila, dan Gita Gutawa yang tercatat mengenyam pendidikan di luar negeri dan sejenak rehat dari dunia keartisan. Melihat semakin banyaknya artis yang berprestasi di dunia akademik tersebut tentu merupakan prestasi tersendiri. Ketika di sekitar kita banyak anak muda yang menghabiskan waktu dengan kegiatan tidak jelas dan cenderung mengarah ke hal-hal negatif, para artis ini menjadi salah satu rule model bagi generasi muda yang positif.

Sahabat beauty, sejatinya, sekolah tidak akan membuat pandai. Akan tetapi sekolah akan membuat seorang individu menjadi lebih terasah pengetahuannya, terampil dalam penyelesaian tugas, konsisten yang berarti j sama halnya membentuk sikap tanggung jawab, ketepatan pengambilan keputusan, dan pembentukan karakter yang baik. Implementasi seperti ini hanya ada di dunia pendidikan. Meskipun perlu digarisbawahi bahwa sebaik-baiknya sistem pasti masih ada celah yang kosong. Akan tetapi, hal semacam ini bukan lantas menjadi alasan untuk berhenti menimba ilmu dari bangku sekolah.

Kalau kita mau sedikit merenung, banyak orang yang sebenarnya rela bersusah payah untuk tetap mengenyam pendidikan meski dengan perjuangan yang luar biasa. Mereka-mereka yang tidak memiliki kebebasan finansial dan kesempatan saja memiliki semangat yang luar biasa harusnya mampu menjadi motivasi bagi yang lain untuk tetap semangat meningkatkan potensi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sahabat beauty, jangan berhenti belajar meski rentetan usia sudah mengular. Jangan berhenti berbuat baik meski kadang kondisi lingkungan tidak selalu berpihak balik. Jangan berhenti berproses hingga tak ada kata lain selain tetap belajar. (Rd/23-05)