Tilik Bu Tedjo

Ketika membuka gawai, Tilik atau Bu Tedjo menjadi kata yang sangat populer. Suguhan informasi mulai dari film, fragmen dialog, jargon, maupun komentar nitizen sangat beragam dan membuat kita ikut terpingkal-pingkal. Setelah menonton film ini seakan kita dibawa pada realitas masyarakat yang ada di pedesaan ketika mengunjungi saudara maupun tetangga. Dengan mengangkat kejadian sehari-hari, film ini dikemas dengan apik serta didukung dengan penokohan yang kuat. Sebut saja Bu Tedjo yang mendominasi pembicaraan di atas truk berhasil membuat penonton seakan ingin ikut ‘mangap-mangap’ hehe…

Saya pun tidak ingin ketinggalan tren dan ingin sedikit ngobrolin Bu Tedjo kalau bahasa anak muda saat ini. Saya meyakini bahwa hampir sebagian besar penonton membenarkan bahwa Bu Tedjo adalah realitas. Sosok Bu Tedjo yang terkenal suka membicarakan orang lain didukung dengan gaya bicara ceplas-ceplos mampu menarik perhatian terutama kalangan ibu-ibu. Di sekitar kita, Bu Tedjo ada banyak versi. Apabila ditelisik lebih mendalam, Bu Tedjo lekat dengan banyak karakter yang selalu ingin benar, ingin menang sendiri, senang membicarakan orang lain, dan pandai menghubungkan pembicaraan. Ini adalah sebuah fakta yang terjadi di dalam masyarakat kita. Tidak dapat dipungkiri bahwa pertemuan ataupun perkumpulan seringkali menjadi sarana yang asik untuk para ibu-ibu bergosip. Dan pengejawantahan dialog di atas truk ini menjadi salah satu potret realitas yang ada di dalam masyarakat.

Bu Tedjo dengan gaya khasnya mampu menyajikan berita tentang Dian “Si Kembang Desa” seolah merupakan kebenaran dengan menunjukkan sederet bukti yang berasal dari media sosial. Pendapat yang disampaikan Bu Tedjo dengan diperjelas dengan komentar-komentar menjadi pemantik emosi ibu-ibu yang lain untuk ikut membenarkan pendapat tersebut. Sekilas, yang disampaikan Bu Tedjo mendekati kebenaran meski tidak sepenuhnya benar. Stigma negatif terus dialamatkan pada tokoh Dian agar pendapat Bu Tedjo didukung oleh ibu-ibu yang lain. Mungkin kadang kala kita sering bersikap seperti Bu Tedjo yang ingin selalu dianggap benar. Padahal, seperti yang kita tahu bahwa di internet juga banyak hoax atau berita bohong yang ber-sliweran. Oleh karena itu, kita harus bijak agar tidak mudah termakan hoax yang berasal dari sumber yang kredibilitasnya tidak jelas. Alangkah baiknya, apabila melihat atau mendapat berita dikroscek terlebih dahulu agar tidak menimbulkan stigma ataupun tindakan yang merugikan pihak lain. Dalam film ini tentu Dian menjadi mangsa yang empuk dengan berita yang digoreng sedemikian rupa.

Di satu sisi, film ini juga mengangkat pandangan masyarakat yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Apabila hal tersebut tidak sesuai dengan hal umum yang berlaku di masyarakat dianggap sebagai sesuatu yang tidak pas seperti perempuan yang sudah layak untuk menikah “diharuskan” untuk menikah. Cap negatif pada diri Dian yang sudah bekerja dan dianggap sudah berusia matang untuk menikah tetapi tidak segera menikah dianggap sebagai sebuah keresahan. Sesuatu yang tidak pas atau dalam bahasa Jawa “ora ilok”. Hal ini ditambah dengan fakta Dian yang memiliki hubungan dengan lelaki yang berusia lebih tua dianggap sebagai perempuan yang tidak baik (simpanan). Pantasnya Dian berpasangan dengan lelaki yang memiliki usia sebaya atau di atasnya tidak terlalu jauh. Apabila seorang wanita memiliki pasangan yang memiliki rentang usia yang terlalu jauh juga dinilai negatif. Nah, pada titik ini film Tilik seolah ingin menyampaikan bahwa di dalam masyarakat terdapat hal-hal umum yang dijadikan patokan kebenaran padahal tidak selalu benar. Semoga kita termasuk pengguna internet yang bijak dan tidak suka membicarakan orang lain untuk tujuan yang kurang baik. Selanjutnya, selamat menonton bagi yang belum sempat menikmati dialog Bu Tedjo. Dan selamat berinstropeksi bagi yang sudah menontonnya. Jangan sampai kita menjadi Bu Tedjo selanjutnya. (22/8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *