Khawatir?

Sebuah pepatah lama yang sering terdengar yaitu kebahagiaan yang hakiki adalah ketika engkau sudah tidak khawatir tentang apapun. Biasanya di usia tertentu kita mengalami rasa khawatir yang cukup tinggi. Saat remaja ada yang khawatir tidak memiliki figur tanpa panutan yang sesuai. Terlebih bagi anak yang yang kedua orang tuanya tidak hidup bersama atau bahkan bercerai. Saat memasuki gerbang remaja, anak-anak juga dihadapkan dengan berbagai dilema seperti rasa minder dengan teman yang lebih baik, tidak memiliki teman, bulliying, kekurangan ekonomi dan sebagainya.

Ketika memasuki usia dewasa, permasalahan jodoh dan pekerjaan seringkali menjadi pembicaraan yang tak kunjung usai. Ketika memasuki usia bekerja, setiap orang dihadapkan pada berbagai kekhawatiran yang berbeda. Ekonomi selalu menjadi momok bagi sebagian orang karena perasaan tidak mampu seperti yang lain Ketika memasuki masa berkeluarga, kekhawatiran takut tidak mampu mencukupi kebutuhan, takut kehilangan, takut diremehkan statusnya mencuat. Ketika memasuki masa pensiun, sebagian orang mulai khawatir kehilangan jati diri, merasa tidak produktif, dan kekurangan teman karena kondisi fisik yang kurang mendukung untuk beraktivitas.

Sahabat beauty, kekhawatiran selalu muncul sepanjang kehidupan kita di dunia. Sifat dasar manusia yang merasa takut dan tidak cukup sering kali menjadi pemicunya. Satu contoh, masa SMA seringkali disebut masa yang paling indah dalam fase kehidupan. Setiap orang banyak merayakan kebahagiaan, ambisi, harapan, pertemanan yang akrab, perlombaan, dan eksistensi diri sedang berada pada gairah tertinggi. Akan tetapi ada kalanya pada masa itu, seseorang diserang dengan berbagai rasa takut tidak mampu bersaing dengan keunggulan. Ketakutan inilah yang sebenarnya merupakan batas signifikan setiap orang. Apakah seseorang akan mampu melampaui batas signifikan atau hanya stagnan karena kekhawatiran. Pada titik inilah diperlukan sebuah pengelolaan emosional agar bentuk kekhawatiran itu tidak dianggap sebagai momok tetapi sebagai pelecut menuju signifikan. Lalu apa yang harus dilakukan?

Setiap orang memiliki langkah yang berbeda. Ada yang menitikberatkan pada eksekusi, ada yang menitikberatkan pada perencanaan, ada pula yang pasrah dengan keadaan. Perbedaan cara menangani permasalahan inilah yang berpengaruh pada pencapaian.

Pada dasarnya, khawatir adalah reaksi tubuh yang normal dan wajar. Akan tetapi, Kekhawatiran malah akan menjadi pemicu munculnya konflik yang berkepanjangan dan tak kunjung usai apabila diberikan porsi yang berlebihan. Mengapa? Kekhawatiran tinggi kita akan susah untuk fokus pada tujuan. Setiap pengambilan keputusan akan dihantui rasa “kemrungsung” yang malah akan membuat keputusan tidak “on point”. (rd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *