Tidak Semua Harus Diberikan

          Pagi ini saya sedikit terhenyak ketika membaca sebuah pernyataan “uripku mbiyen wis susah, anakku ojo nganti melu susah” (Hidup saya dahulu susah, anak-anak saya jangan sampai ikut susah). Saya kok agak kurang sependapat ya. Saya lebih setuju apabila anak memang harus dididik dengan cara bijak dan sederhana agar lebih menghargai ketika berada di posisi yang lebih tinggi. Mungkin kita sering kali tidak tega sebagai orang tua ketika anak harus melakukan ini itu sendiri. Ah masak sih, aduh kasian ya, aduh tak tega, dan sebagainya. Rasanya memang susah terlebih anak adalah bentuk kecintaan orang tua yang ingin selalu dekat, ingin selalu disanding. Saya pun pernah mengalami hal serupa ketika kedua buah hati saya menjalani pendidikan yang sedikit “tegas”. Tetapi saya yakin bahwa apa yang saya lakukan adalah bentuk pengejawantahan rasa cinta. Dan sayapun mencoba tetap macak bakoh dan mencoba tegar kalau bahasa anak-anak milenial sekarang hehe…. Dan sekarang saat mengingat masa-masa itu saya malah seringkali berpikir “ternyata aku bisa ya, tidak terasa ya, kok bisa ya”. Ternyata kuncinya hanya satu: dilakoni kanti ikhlas.

          Apabila ditelisik lebih jauh, memberikan kehidupan yang sederhana kepada anak justru memberikan pelajaran yang lebih baik. Anak akan terbiasa hidup sewajarnya bukan dengan standar dan syarat yang tinggi. Sebagai contoh sebagian besar anak yang terbiasa di kamar dengan AC susah beradaptasi apabila tidur di tempat yang kurang nyaman. Anak yang terbiasa menggunakan fasilitas mobil pribadi mungkin akan kikuk ketika harus naik kopata atau kendaraan umum lainnya. Sebagai orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, tetapi apabila yang diberikan oleh orang tua adalah kemudahan-kemudahan maka sangat dimungkinkan kreatifitas dan sikap adaptifnya kurang terbentuk dengan baik. Berbeda dengan kebanyakan. Janganlah kita sebagai orang tua ingin menimang anak tetapi dalam kenyataannya malah menjerumuskan dalam kesulitan-kesulitan di masa mendatang. Terlebih di era saat ini generasi milenial yang bersaing tidak hanya dengan tetangga atau teman SMP-nya tetapi dengan teman-teman seusianya dari seluruh penjuru dunia. Artinya? Kompetensi, sikap, pengetahuan yang lebih mumpunilah yang akan mampu bersaing. Bukan dengan anak siapa dan kaya tidaknya.

          Saya pikir benar adanya bahwa kita sebagai orang tua seyogyanya bisa katakan STOP untuk memanjakan anak secara berlebihan. Ada baiknya orang tua mulai lebih selektif dalam memberikan apa yang boleh dan apa yang tidak sehingga anak tidak akan selalu tergantung dengan orang tuanya. Toh, kita tidak akan selamanya bisa mendampingi mereka dan kita juga tidak tahu mereka akan hidup dengan cara yang bagaimana di masa mendatang.

Jakarta, 11 Desember 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *