Memberi Karena Kasihan Tapi…

          Semua orang memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan konfliknya. Salah satu karyawan saya pernah bercerita bahwa di Jalan Janti sering ada penunggunya. Penunggu ini tentu tidak selalu identik dengan hantu hehe. Para penunggu kondisinya berbeda-beda. Akan tetapi mereka semacam menjual kelemahannya untuk menarik simpati dan mengumpulkan donasi. Salah satu contoh ada seorang ibu yang setiap hari pekerjaannya memulung botol bekas. Di tengah kesehariannya mereka biasa berhenti di salah satu titik. Melepas lelah sambil “menunggu uluran” dari pengguna jalan. Beberapa kali terlihat pengguna jalan yang berhenti sejenak untuk sekedar berdialog atau membawa oleh-oleh untuk anak semata wayangnya yang kini berusia 5 tahun. Anak ini selalu menyertai kemanapun Sang Ibu membawa gerobaknya. Bahkan di sebuah kesempatan, Si Ibu tanpa risi membuka perutnya dan menunjukkan beberapa bekas sayatan operasi saat melahirkan Sang anak yang saat itu dilakukan dengan caesar dan dengan bantuan BPJS tentunya. Sang suami sendiri dikabarkan tidak bekerja menurut penuturan Sang Ibu sehingga beliau harus mengepul botol di sore hari setelah sang anak pulang sekolah. Saat itu beliau bercerita bahwa mereka menumpang hidup di lahan kosong milik pengepul sampah. Sebenarnya ketika menilik kondisi fisik Sang Ibu dan putranya, siapapun pasti akan merasa iba. Dengan kondisi yang serba kekurangan mereka mencoba tetap bertahan hidup meskipun kondisinya cukup memprihatinkan. Pengguna jalan yang mendengar ceritanya pasti tak tahan untuk segera mengelap air matanya, termasuk karyawan saya.

          Di tempat yang terpisah seorang ibu berusia di bawah 40-an menggelar tikar plastik di salah satu ruas jalan samping Selokan Mataram. Sang Ibu ini setia menggelar tikarnya setelah jam 3 sore hingga malam. Bersama anaknya yang berusia di bawah 1 tahun, dia menunggu para pengguna jalan yang lewat. Tidak seperti ibu yang pertama, Si Ibu Taman ini tidak membawa peranti pekerjaannya. Beberapa kali terlihat mahasiswa yang berhenti sekedar memberi jajan atau mainan kepada sang anak. Dan lagi-lagi Ibu ini tetap memperlihatkan ketegarannya.

          Dua kasus di atas adalah satu dari ribuan kasus keluarga yang mencoba bertahan hidup dengan berbagai cara. Secara naluri, setiap orang pasti iba melihat kondisi orang-orang yang kurang beruntung tersebut. Sekelebat pasti tersirat ingin melakukan sesuatu untuk meringankan beban dengan memberikan bantuan baik uang, makanan, mainan, atau apapun yang sekiranya bisa dikategorikan meringankan beban. Di sisi lain, ada rasa yang muncul “kok gitu ya, aduh kasihan tapi” dan sebagainya saat praktik yang dijalankan untuk menjaring donasi dengan cara menjual kekurangannya.

          Sahabat beauty, dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali orang menggunakan kekurangannya untuk menarik simpati orang lain. Baik untuk kepentingan pribadi maupun memang untuk bertahan hidup. Apakah salah cara tersebut? Saya sendiri tidak bisa menghakimi hal tersebut sebagai sesuatu yang salah karena kondisi setiap orang tentu berbeda. Akan tetapi, apabila menilik lebih jauh, banyak juga masyarakat yang kekurangan tetapi mereka tetap bekerja dan berusaha dengan kemampuannya bukan dengan cara “meminta”.

          Sahabat beauty, sebagai makhluk sosial tentu kita tidak bisa lepas untuk saling memberi pertolongan. Akan tetapi, seyogyanya dan akan cukup bijaksana apabila hal-hal yang kita berikan mampu meringankan beban orang lain tanpa menjadi pelipur lara dengan menjadikannya “malas”. Malas dan terpuruk dengan keadaan sehingga mereka semakin menggantungkan hidup dengan meminta tentu bukan hal yang kita inginkan sebenarnya. Saya berharap, para dermawan dapat memberikan santunan sesuai sasaran tanpa melenakan.

Salam sosial dari Yogyakarta

19 Desember 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *