Saya (juga) Sedang Belajar, Le…

Pagi ini saya dikejar deadline janjian untuk mengerjakan tugas negara (baca: kampus). Dengan pertimbangan waktu agar lebih efisien pergilah saya naik motor. Tanpa prasangka apapun, saya memarkir motor di depan salah satu toko franchise terkenal di Jalan Kaliurang. Anak sayapun gemar nongkrong di sini ketika bersama teman-temannya baik sekedar ngobrol ataupun mengerjakan tugas. Tanpa babibu saya langsung beranjak ke tempat teman yang persis berada di samping toko tersebut. Di tempat teman saya inilah saya biasa berguru meminta kawruh dan berdiskusi tentang banyak hal. Dengan kata lain, saya sudah sangat akrab dengan toko ini sebagai bagian dari keseharian saya.

Singkat cerita setelah dua jam sayapun kembali ke toko tersebut untuk membeli sesuatu. Sebelum masuk ke pintu utama saya melirik ke motor saya. Kok ada yang janggal? Setelah diperhatikan ternyata helm di sepeda motor saya hilang. Lalu, mampirlah saya ke tukang parkir yang berada di depan toko tersebut. Dari sikapnya yang sedikit arogan saya berpikir mungkin memang seperti itu rata-rata sikap orang-orang yang biasa berada di lingkungan serupa. Bahkan, Sang Tukang Parkir malah menuduh saya mau kabur dan meninggalkan motor sembarangan. Duh, kok bahasanya agak nyolot juga. Sebagai pelanggan yang notabene cukup loyal, saya merasa sedikit kurang nyaman dengan sikap dan bahasanya yang cukup menohok. Sayapun bergegas ke counter dan meminta untuk bertemu area manajer. Datanglah seorang wanita yang cukup imut menemui saya dan kami ngobrol ngalor-ngidul. Dari caranya meng-handle masalah, saya yakin Sang Manajer ini juga terbiasa menemui masalah serupa. Gayungpun bersambut dan bertemulah saya dengan Mbak Manajer, Mas Tukang Parkir diiringi oleh Ibu Juragannya. Kamipun terlibat obrolan serius yang cukup lama sekitar setengah jam. Dari sana saya belajar bahwa lingkungan berpengaruh sangat besar terhadap kepribadian seseorang. Sang Mas Parkir dan Ibu Juragan tak pelak malah menitikkan air mata. Saya pun ikut terharu.

Bolehlah kita bekerja dimanapun dengan profesi apapun yang sesuai dengan passion-nya. Akan tetapi, jangan sampai karena porsi pekerjaan mengendalikan kita hingga menjadi arogan dan meninggalkan tata krama dalam kehidupan. Terlebih, kita hidup dalam tatanan masyarakat yang tentu tidak boleh bertindak sembarangan. Ada nilai-nilai dalam masyarakat kita yang apabila dilanggar akan menyebabkan adanya cidera dalam tatanan kita. Mungkin di lain sisi hal semacam ini dipandang sepele tetapi bagi sebagai pendidik saya merasa sangat eman kalau nilai-nilai tersebut luntur tanpa ada pengawalan. Saya yakin di hati semua orang tetap menyimpan kebaikan. Sekeras apapun hati seseorang pasti tetap ada sisi yang bisa disentuh kebaikan. Itulah salah satu point humaniora yang kadang dilupakan orang di zaman digital ini. Semoga kita senantiasa dirahmati Allah agar selalu tetap berada dalam kebaikan. (Rd-29/8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *