Keluarga: Dasar Peletakan Moral dan Karakter

Berita pembunuhan berencana di SMA Taruna Negara Magelang yang baru 2 hari ini heboh di media memang menimbulkan spekulasi tersendiri. Sangat disayangkan anak di usia 16 tahun yang seharusnya mulai mengenyam manisnya masa-masa SMA harus menghadapi dakwaan akibat perbuatannya. Seorang pelajar yang menurut berita dilatarbelakangi oleh oleh motif sakit hati dan dendam ini tega membunuh temannya sendiri. Bahkan, eksekusi yang cukup mengerikan ini dilakukan pelaku sendirian dengan perencanaan sebelumnya. Kejadian ini memang disesalkan oleh banyak pihak, baik dari pihak sekolah maupun para orang tua siswa. Saya sebagai orang tua yang kedua anaknya mengenyam pendidikan di SMA TN sangat miris mengetahui kejadian semacam ini.

Jika ditilik dari hukuman yang dituntut oleh undang-undang maka maksimal hukuman yang akan diterima oleh pelaku sekitar 15 tahun penjara. Jika saat ini pelaku berusia 16 tahun maka 15 tahun lagi saat keluar dari penjara usianya sudah 30-an tahun. Dengan kata lain, karir si pelaku dapat dikatakan tamat dan tertutup untuk instansi pemerintah dan swasta. Selain dampak sosial ini, kerugian immaterial lain seperti tekanan psikologis, tekanan keluarga, dan cap pembunuh yang melekat seumur hidup akan menjadi citra yang sangat berat bagi pelaku dan keluarga.  Berkaca dari hal ini, kita dapat menelusur satu-persatu, yaitu:

Pentingnya pendidikan karakter terutama dari keluarga

Keluarga adalah muara pertama seorang anak belajar banyak hal termasuk pola penanaman moral dan nilai-nilai. Keluarga merupakan tempat belajar pertama karena anak akan meniru dari lingkungannya. Jika si anak terbiasa mendengar kata cacian dan bentakan maka diapun akan terbiasa membentak orang lain. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang maka akan terbangun jiwa menyayangi antar sesama sejak kecil. Oleh karena itu, peran keluarga dalam proses pendidikan anak ini sangat fundamental.

Menjaga hubungan baik dengan sesama rekan seasramaIMG-20170403-WA0011

Anak terutama yang baru duduk di bangku SMA kelas 1 tentu masih dalam proses orientasi atau penyesuaian dengan lingkungan. Begitu juga dengan yang terjadi pada pelaku ini. Memang tidak bisa dipungkiri SMA TN yang merupakan rujukan sekolah favorit yang berasal dari seluruh Indonesia pasti di dalamnya terkumpul beragam karakter yang berbeda. Ada anak yang memiliki tingkat adaptasi yang tinggi namun ada pula yang tingkat adaptasinya rendah. Perbedaan sikap ini seringkali menimbulkan gab-gab toleransi yang tidak sama antar siswa yang satu dengan yang lain. Hal inilah yang telah terjadi antara pelaku dan korban di SMA TN ini. Pelaku tidak dapat menoleransi sikap korban yang dinilai terlalu caper di depan pamongnya dan sakit hati karena HP pelaku diberikan korban kepada pamong setempat. Penguasaan emosional semacam inilah yang pada akhirnya berbuntut malapetaka pelik pembunuhan tersebut.

Pengamanan dari pihak sekolah harus lebih diperketat

Sebagai pihak yang mengampu pendidikan dari mulai bangun tidur hingga siswa kembali ke tempat tidurnya, sekolah mengemban tugas yang sangat berat untuk mendidik para siswa yang berada di dalamnya. Tanggung jawab ini tentu tak mudah mengingat beragam karakter dan latar belakang siswa yang tidak sama tersebut juga memiliki kapasitas yang berbeda. Sekolah dituntut harus mampun untuk mengakomodasi semua kepentingan siswa tanpa terkecuali. Terlebih hampir semua tahu bahwa biaya pendidikan di SMA TN dan proses seleksinya juga tidak mudah.  Dari kasus ini sekolah tentu harus lebih siaga terhadap segala aktivitas dan tingkah laku dari semua elemen di dalam sekolah tersebut.

Dari kasus yang telah terjadi di SMA TN tentunya harus dapat dijadikan pembelajaran bagi semua pihak agar lebih memperhatikan tumbuh kembang anak. Pembentukan pola pendidikan karakter yang diwarnai dengan kedisiplinan juga harus diiringi dengan pembelajaran tentang toleransi. Dan hal ini harus dimulai dari keluarga tentunya karena merupakan pondasi utama dalam peletakan dasar-dasar nilai moral. Tetap majulah SMA kebangsaan tanpa meninggalkan sistem toleran dan kedisiplinan. (03/04-Rd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *