Suatu Pagi Di Kantor Imigrasi

Biasanya orang pergi ke pasar dan ramai itu hal yang lumrah. Desak-desakan dengan sesama calon pembeli maupun dengan pedagang. Selain hiruk-pikuk pasar ada yang antrinya lebih heboh loh di Jogja. Bandara? pendafatran SPMB? masih lewat. Kantor ini beroperasi jam 8 pagi tetapi antrian biasanya sudah mengular dari jam 4 pagi! Wow…!!! subuh saja belum !!! Yups, itulah salah satu potret di kantor imigrasi Yogyakarta.

Kantor yang tak pernah sepi pelanggan ini selalu dipadati orang-orang yang memiliki kepentingan ke luar negeri. Bahkan, saking antrinya kadang kala malah ada pengunjung yang mau menukarkan urutannya dengan meminta imbalan sejumlah uang. Bukan hal yang aneh jika panjangnya antrian inipun mendatangkan berbagai macam perasaan seperti malas, sebel, gak sabaran, bete, dan seabrek perasaan yang menggunung.

Sayapun ceritanya tenggelam diantara ratusan antrian yang maha ular panjangnya ini. Sembari mendorong kejenuhan menjauh saya pun iseng membuka-buka HP (meski tak ada pesan masuk hehe…). Tanpa sengaja saya memperhatikan seorang bapak di antrian depan gelisah, entah apa yang ada di benaknya. Sampai akhirnya dia berbicara dengan sesama pengantri di belakangnya. Tak berselang lama Sang Bapakpun melesat entah kemana dan para pengantri yang mengetahui ada jeda langsung meringsek ke depan. Seorang Bapak yang diajak berbicara tadi tetap berdiri di barisannya hingga menimbulkan kericuhan pada barisan. Beberapa orang mulai berteriak hingga aksi dorong-mendorong ke depan pun terjadi. Namun, hal yang terjadi di luar dugaan. Si Bapak yang tadi diajak ngomong (sebut saja Pak Karim) tetap mempertahankan posisinya dan mengatakan jika seseorang di depannya pergi sebentar untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Toh, hal ini malah semakin membuat para pengantri arogan dan tak sabar. Pak Karim yang dari semburat wajahnya merupukan turunan peranakan etnis Tionghoa tak mengindahkan sedikitpun kericuhan di belakangnya. Hingga akhirnya Sang Bapak yang tadi pergi telah kembali ke posisi di depan Pak Karim. Terlihat Si Bapak mengucapkan terima kasih dan mereka bersalaman sambil melempar senyum. Kalian tahu yang terjadi setelahnya? Para pengantri yang tadi ribut untuk mengambil jatah antrian Si Bapak ikut tersenyum penuh kelegaan. Tanpa disadari mereka telah diajari sebuah cara untuk menjaga amanah. Bahkan, mereka semakin menyadari bahwa dalam hubungan antarmanusia etnis hanyalah baju yang membalut. Ibarat pisang, etnis hanya kulit. Esensinya sama sebagai manusia yang paling penting adalah rasa kemanusiannya. Istilah bahasa Inggrisnya don’t just book by it’s cover.

Dari kejadian ini sayapun semakin mengerti bahwa rasa kemanusiaan itu tidak dapat diukur secara kasatmata. Rasa kemanusiaan itu tumbuh dan berkembang di dalam jiwa seseorang yang disemai kasih sayang dan pengalaman bukan oleh tempelan atribut yang sengaja dipajang. Sepertinya geger politik di pusat ibukota harus belajar dari kejadian kecil ini. Terlebih kejadian penolakan menshalatkan jenazah karena politik sangat tidak etis. Semestinya politik itu memberikan pelajaran untuk berbenah bukan malah membuat tatanan masyarakat semakin bubrah. Mari, lebih mengendalikan diri menuju pribadi yang bernurani. (14/03-Rd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *