Si Pencuri Waktu

Jujur saya termasuk ibu yang jarang bisa menemani makan siang anak-anak saya. Selain karena kondisi jarak yang tidak selalu bareng, masing-masing dari kami memiliki kesibukan sendiri-sendiri yang agak sulit untuk menyamakan waktu bertemu. Tempo waktu saya sengaja memasak empek-empek Palembang dan kue keju. Mungkin terkesan sederhana ya tapi begitulah cara saya memanjakan lidah mereka agar selalu ingat masakan ibunya. Lain kali kadang juga janjian dengan anak untuk makan bareng di suatu tempat. Sepertinya kebersamaan inilah yang terasa mahal bagi keluarga modern seperti sekarang karena terhalang oleh faktor kesibukan. Apabila tidak disiasati, sangat mungkin hal semacam ini akan menimbulkan bibit-bibit konflik yang berkepanjangan dengan serentetan alasan. Tentu yang pertama mulai dari anak mengeluh orang tuanya sibuk ini-itu, kegiatan ini-itu, acara ini-itu, dan sebagainya. Sebagai orang tuapun tentu tak mau serta merta disalahkan dan menggunakan jurus antipeluru bahwa mereka bekerja untuk membiayai ini dan itu. Pada tahap inilah biasanya terdapat gap yang membuat hubungan orang tua dan anak menjadi renggang.

Pada zaman yang terkenal dengan era generasi Z ini, sangat sulit menjaga kualitas hubungan keluarga tetap rukun dan harmonis. Meski begitu janganlah menganggap hal ini sebagai beban tetapi anggaplah sebagai sebuah tantangan tersendiri. Janganlah sampai kita membangun image keluarga yang penuh cinta tetapi keropos di dalam. Konflik yang kadang terlihat kecil dan sepele sangat mungkin menjadi bumerang yang meledak di kemudian hari jika tidak dikelola dengan baik. Janganlah kita sibuk mencari tumpukan harta dengan alasan buat bekal anak-anak sementara kita menelantarkan anak-anak kita tanpa sentuhan kasih sayang.

Oleh karena itu, kunci penting dalam sebuah keluarga adalah membangun komunikasi antara orang tua dan anak. Salah satunya bisa dilakukan dengan mencuri waktu menikmati waktu bersama anak. Selain itu kita sebagai orang tua juga harus pintar dan kreatif dalam mengolah berbagai persoalan sesuai dengan cara yang bijaksana. Mari jadi pencuri kasih sayang anak-anak demi kualitas hubungan dan masa depan. (Rd-26/1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *