Wabah “Om Telolet Om” di Tengah Isu SARA

Wabah Om Telolet Om semakin mendunia. Kiranya ini pernyataan yang tepat karena hanya dalam waktu singkat frasa ini menjadi tranding topic di dunia maya. Bahkan, para selebritis dan DJ kelas dunia seperti DJ Firebeatz dan DJ Snake ikut meramaikan fenomena ini. Mereka membuat arransemen dengan memasukkan unsur Om Telolet Om dalam komposisi musiknya. Untuk kalangan nitizen sendiri banyak yang mengikuti trend berdiri di pinggir jalan sambil membawa plakat bertuliskan Om Telolet Om sambil menunggu bis di pinggir jalan. Demam ini pun sebelumnya juga telah didahului oleh video viral bus challenge, mannequin challenge, dan ketawa challenge.

Dalam dunia politik pun tranding topic juga ikut bergema mulai dari kasus Ahok tentang Al-Maidah 51, a093158800_1482281149-1ksi 212, dan yang terbaru tentang pergantian design mata uang rupiah yang hangat dengan isu SARA. Beberapa kejadian di atas adalah fenomena yang muncul  seiring perkembangan teknologi. Dengan bantuan media online, segala rumor dapat menyebar dengan cepat di kalangan masyarakat. Trend mengikuti viral di media sosialpun menjadi sesuatu yang dipandang eksis dan perlu ditiru agar terlihat hits. Dengan kata lain, sebagai salah satu sarana aktualisasi dan eksistensi diri. Contoh sederhana, ketika siswa-siswa SMA di sebuah sekolah memparadekan kegiatan naik bus serta-merta para nitizenpun menirukan gaya serupa. Bahkan, kegiatan yang dinilai asyik inipun ramai-ramai diunggah di media sosial masing-masing sehingga kegiatan tersebut terkenal dengan sebutan bus challenge.

Begitu pula dengan kasus Al-Maidah 51 yang berlanjut pada aksi 212 dan penetapan Ahok sebagai tersangka penista agama. Nitizenpun ikut ramai-ramai berkicau tentang Ahok yang mengakibatkan masyarakat terpecah dalam tiga kubu: pro, kontra, dan netral. Lebih parahnya isu SARA inipun berlanjut ketika Bank Indonesia mengeluarkan mata uang baru yang diklaim mirip mata uang yuan dan euro. Isu SARA-pun masih dilekatkan karena unggahan salah satu nitizen yang menyebutkan 5 dari 11 pahlawan yang dipilih sebagai background design uang bukan dari golongan muslim. Hal inipun kembali membuat hiruk-pikuk dengan beradu pendapat dan saling mem-bully di kalangan nitizen. Menurut hemat saya, BI pasti sudah memiliki pertimbangan khusus mengenai alasan dibalik pemilihan para pahlawan tersebut. Bahkan, saya pikir dalam rangka menjunjung rasa nasionalisme serta mengenang jasa para pahlawan, sangat tidak etis apabila agama dijadikan sebagai rumusan yang wajib dihadirkan. Jika kita menengok ke belakang tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia, ketika para pahlawan berjuang membela bumi pertiwi dari tangan para penjajah, mereka bersatu-padu tanpa mengotak-ngotakkan agama. Bahkan, perbedaan agama dianggap sebagai kekuatan yang menyelaraskan dan menjadi pangkal persatuan yang indah (Bhineka Tunggal Ika). Dari sinilah kita dapat belajar untuk kembali mengoreksi diri dan saling bertenggang rasa. Bukan saling mencaci dan ingin menang sendiri.

Salah satu clue yang ingin saya sampaikan adalah untuk menjadi bangsa yang utuh, bersama saja tidak cukup karena kita juga harus bersatu. Bersatu saja cukup? Tidak! Kita juga harus beradab. Dengan kata lain, di tengah gencarnya pemberitaan tanah air yang penuh dengan cibiran dan gontok-gontokkan bahkan kata-kata pendangkalan aqidah ini marilah kita lebih mengeratkan kebersamaan dalam lingkup persatuan dengan cara yang beradab. Kritis boleh tapi harus etis! (rd/221216)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *