Aksi 212 yang Adem

Akhir tahun ini tampak banyak kejadian yang terjadi berurutan terutama berkenaan dengan negara. Salah satunya yang paling banyak disorot adalah aksi 212 dan aksi yang disebut aksi tandingan 412 yang kemarin menghebohkan jagat dunia sosial maupun televisi dan media cetak. Saya memang bukan seorang politikus yang pandai dalam bercorong ria dengan berbagai trik. Namun, kali ini izinkan saya sebagai salah satu warga sipil memberikan pandangan mengenai kondisi bangsa ini. Saya terlahir dari keluarga akademisi. Bapak saya seorang dosen dan ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Sejak kecil saya tinggal di kompleks perumahan yang sebagian besar adalah pendidik. Hal ini pulalah yang mengilhami saya hingga akhirnya memilih profesi pendidik menjadi jalan hidup yang saya tekuni hingga saat ini. Sekali waktu dulu, saya memang sempat mencoba untuk terjun ke dunia politik. Dari kegiatan baru yang saya geluti tersebut saya mendapatkan pelajaran yang luar biasa tentang arti solidaritas, kekuasaan, uang, kepopuleran, teman, lawan, dan keluarga. Dan waktupun menggariskan saya untuk memutuskan mendamaikan diri dan mundur dari dunia yang penuh hiruk-pikuk tersebut. Bertahun-tahun berkecimpung di dunia yang sarat dengan berbagai gesekan kepentingan dan intrik ini tak lantas membuat saya berkecil hati saat ini. Malah, hal ini semakin menguatkan saya untuk lebih legowo menapaki kehidupan di usia jelang kepala lima.

Experiences is the best teacher adalah ungkapan yang benar adanya. Dengan berbekal pengalaman kita akan lebih waspada dalam bersikap. Aksi 212 yang terjadi 2 Desember 2016 kemarin bagi saya bukanlah ancaman bagi negeri yang sejak awal sudah beraneka ragam ini. Menurut saya hal ini malah semakin menguatkan adanya solidaritas dari berbagai suku, ras, dan agama. Para peserta aksi 212 seperti yang dilansir media bukan hanya umat muslim saja tetapi juga diikuti oleh orang nasrani. Saat itu monas menjadi saksi bagi kurang leaksi 212bih 7.500.000 rakyat Indonesia yang memimpikan kedamaian bagi negeri ini. Sebuah aksi damai yang baru pertama kalinya terjadi dalam sejarah peradapan Indonesia. Sungguh luar biasa!!! Meskipun saya tidak terjun langsung mengikuti aksi tersebut, rasa getar bangga begitu hebat membuncah di hati saya. Bagaimana tidak? Baru kali ini saya menyaksikan aksi yang menyulut rasa persatuan dan kesatuan di bumi pertiwi ini. Doa-doa yang dipanjatkan pun diijabah oleh Allah dengan diturunkannya hujan. Pak Presiden pun tak luput dari sorotan dengan ikut berjalan kaki menuju lokasi aksi untuk menunaikan sholat jumat bersama-sama. Ini adalah pemandangan langka yang menyuratkan bahwa sudah selayaknya pemimpin berbaur dan menyatu dengan rakyat. Subkhanallah!!!

Kekaguman saya yang ketiga terhadap aksi 212 adalah kepedulian antar sesama baik sebagai rakyat maupun sebagai pemimpin. Bahkan, selepas aksi ini selesai, semua peserta aksi memunguti sampah yang tersebar hingga arena monaspun bersih dari sampah. Inilah aksi damai yang sesungguhnya. Hal ini sesuai dengan hadist nabi Muhammad SAW النَّظَافَةُ مِنَ الْإيْمَانِ yang artinya kebersihan adalah sebagian dari iman. Demikianlah, aksi 212 menurut saya merupakan momentum yang mampu merekatkan kembali tali silaturahmi antar sesama muslim maupun antar umat beragama.  Inilah Indonesia yang sesungguhnya dan saya bangga menjadi salah satu bagian dari rakyat di dalamnya. (rd/des16)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *